Asman.ac.id – Ketidakpastian global diperkirakan menjadi faktor utama dalam peningkatan harga emas yang dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada 2026. Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa tren penguatan harga emas kemungkinan akan berlanjut hingga akhir 2025, dengan harga saat ini sekitar US$4.512 per troy ons, kemungkinan mencapai US$4.550 sebelum tahun berakhir.
Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia bisa menembus US$5.500 per troy ons di 2026, meskipun penurunan diperkirakan terbatas di level US$4.150. Rata-rata harga sepanjang tahun 2026 diprediksi akan berada di sekitar US$4.825 per troy ons. Sementara itu, harga emas domestik dapat mencapai Rp3,8 juta per gram, meningkat signifikan dibandingkan proyeksi akhir 2025 yang diperkirakan Rp2,7 juta per gram.
Di lain pihak, nilai tukar rupiah diprakirakan berada di rentang Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2026, mencerminkan tingginya ketidakpastian ekonomi global. Ibrahim membenarkan bahwa kondisi global yang tidak stabil berpotensi terus menekan nilai tukar rupiah.
Sejumlah faktor memengaruhi penguatan harga emas dan pelemahan rupiah, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dinamika politik AS, serta potensi perang dagang. Ibrahim mencatat kemungkinan konflik terbuka antara Israel dan Iran pada kuartal I-2026 dapat memperburuk situasi, mengganggu pasokan minyak dan memicu inflasi.
Potensi ketegangan juga diidentifikasi di Amerika Latin, terutama antara AS dan Venezuela, serta di Eropa dengan konflik Rusia–Ukraina. Semua ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ancaman inflasi dan ketidakstabilan global.