Asman.ac.id – Aritmia, yaitu gangguan irama jantung, dapat terjadi pada usia muda dan memerlukan perhatian khusus. Hal ini diungkapkan oleh dr. Setiawan Widodo, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Mayapada Hospital. Aritmia ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur, terlalu cepat (takikardia), atau terlalu lambat (bradikardia), yang dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem kelistrikan jantung.
Dalam kondisi normal, jantung berdetak antara 60 hingga 100 kali per menit saat beristirahat. Namun, pada pengidap aritmia, detak jantungnya bisa lebih cepat, lambat, atau bahkan tidak teratur. Setiawan menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu aritmia pada individu muda, antara lain konsumsi kafein dan minuman energi yang berlebihan, penggunaan zat stimulan terlarang seperti amfetamin, serta ketidakseimbangan elektrolit akibat dehidrasi atau gangguan nutrisi.
Kondisi medis bawaan, seperti Sindrom Wolff-Parkinson-White dan Long QT Syndrome, juga dapat berisiko tinggi menyebabkan detak jantung yang berbahaya. Selain itu, gangguan tiroid dan gaya hidup tidak sehat, seperti kurang tidur, merokok, atau stres, turut berkontribusi pada terjadinya aritmia.
Gejala aritmia seringkali ringan dan tidak disadari, seperti detak jantung tidak teratur atau pusing. Untuk diagnosis, metode elektrokardiogram (EKG) dapat digunakan, yang mampu merekam aktivitas listrik jantung secara non-invasif. Setiawan mengingatkan agar individu yang merasakan gejala serupa segera melakukan pemeriksaan untuk pengobatan yang tepat.
Pencegahan aritmia dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana, seperti mengatur pola makan, tidur yang cukup, dan menghindari stres. Rutin memeriksakan kesehatan jantung juga sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat masalah jantung.