Asman.ac.id – Iran dan Amerika Serikat (AS) tengah menyusun nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari 40 hari, dengan bantuan mediator dari Pakistan. Kemajuan ini terungkap dalam pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Baghaei menjelaskan bahwa dokumen yang sedang dirumuskan mencakup 14 poin penting yang esensial untuk menyelesaikan perang. “Kami berada pada tahap akhir penyelesaian nota kesepahaman ini,” ujarnya. Dalam pembicaraan ini, Iran menuntut pengakhiran perang, pencabutan blokade angkatan laut oleh AS, dan pembebasan aset-aset yang dibekukan.
Meskipun ada kemajuan, Baghaei mengingatkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan antara kedua negara. “Ini tidak berarti kami telah mencapai kesepakatan final mengenai isu-isu penting,” katanya, menandakan bahwa proses negosiasi masih panjang. Ia memperkirakan bahwa rincian lebih lanjut akan dibahas dalam waktu 30 hingga 60 hari ke depan.
Iran juga menekankan pentingnya pengaturan di Selat Hormuz dalam draf kesepakatan. Konvergensi pandangan yang terjadi diyakini mampu membuka ruang bagi dialog lebih lanjut, meskipun kesepakatan bersama masih menjadi tantangan. Iran menginginkan agar nota kesepahaman ini dapat membawa stabilitas dan keamanan yang lebih baik kedepannya.
Dengan upaya yang terus dilakukan, diharapkan konflik ini dapat segera berakhir melalui diplomasi yang intensif antara kedua negara yang terlibat.