Asman.ac.id – Istilah “last chat” menjadi semakin populer di kalangan generasi muda seiring dengan pesatnya perkembangan komunikasi digital. Istilah ini, yang secara harfiah berarti “pesan terakhir”, memiliki makna yang lebih kompleks dalam konteks hubungan sosial dan asmara, terutama di platform seperti WhatsApp, Instagram, dan Telegram.
Dalam bahasa gaul Indonesia, last chat merujuk pada pesan terakhir yang dikirim sebelum komunikasi berakhir tanpa balasan, sering kali menjadi indikator adanya fenomena ghosting. Dalam hal ini, jika satu pihak mengirim pesan penting tetapi hanya mendapat “last chat” yang tidak dibalas, hal tersebut bisa diartikan sebagai tanda awal dari pengabaian dalam hubungan.
Last chat juga berfungsi sebagai tolak ukur dalam dinamika pergaulan, terutama selama tahap pendekatan. Para pengguna seringkali enggan menjadi pihak yang memiliki “last chat”, menghindari kesan terlalu agresif. Istilah ini dapat menggambarkan momen penting, seperti pesan perpisahan saat sebuah hubungan diakhiri.
Penggunaan last chat memiliki dampak psikologis yang signifikan. Ketika pesan menjadi tidak terjawab, perasaan ketidakpastian akan timbul, mengakibatkan pikiran yang terus berputar di sekitar percakapan yang belum selesai. Hal ini terkait dengan efek Zeigarnik, di mana individu lebih cenderung mengingat hal-hal yang belum tuntas.
Menghadapi situasi di mana pesan tidak dibalas perlu dijadwalkan dengan bijak. Penting untuk tidak mengirim pesan berulang kali, memberi waktu kepada pihak lain, dan mengevaluasi hubungan secara seimbang. Memahami arti last chat akan membantu individu mengelola hubungan dengan lebih baik dan tidak membiarkan situasi tersebut memengaruhi harga diri mereka.