Site icon asman.ac.id

CSIS Peringatkan Risiko Kesepakatan Tarif AS bagi Mitra Dagang RI

[original_title]

Asman.ac.id – Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan mengingatkan tentang risiko jangka panjang dari kesepakatan tarif yang hampir final antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia. Deni menekankan bahwa perjanjian ini dapat menimbulkan masalah bagi hubungan dagang Indonesia dengan negara mitra lainnya yang merasa diperlakukan tidak setara.

Proses negosiasi saat ini telah memasuki tahap akhir, dengan rencana penandatanganan Kesepakatan Tarif Resiprokal dijadwalkan pada akhir Januari 2026. Namun, Deni mengkhawatirkan bahwa kesepakatan ini berpotensi memicu tuntutan serupa dari negara lain yang memiliki kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Ia menegaskan bahwa kekuatan tawar Indonesia dalam perundingan ini lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam yang telah lebih dahulu menyepakati kesepakatan dengan AS.

Salah satu isu penting yang dibahas adalah permintaan AS terkait akses terhadap mineral kritis Indonesia, yang dapat menimbulkan reaksi negatif dari China. Hal ini semakin memperumit situasi geopolitik, mengingat ketegangan antara AS dan China. Deni menekankan perlunya Indonesia untuk menavigasi hubungan tersebut dengan hati-hati.

Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, sependapat bahwa kesepakatan ini memiliki sifat yang tidak sepenuhnya resiprokal dan cenderung menguntungkan AS. Ia mencatat bahwa meski ada pengecualian tarif, produk unggulan Indonesia masih tidak mendapatkan pembebasan tarif di pasar AS. Hal ini berisiko menciptakan ketidakpuasan di antara mitra dagang lain, termasuk Uni Eropa, dan dapat mengganggu stabilitas perdagangan yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan menko perekonomian dengan Kantor Perwakilan Dagang AS, pemerintah berharap kesepakatan ini dapat membawa manfaat, meskipun tantangan di depan tetap ada.

Exit mobile version