Asman.ac.id – Pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, pada 30 Januari 2023, dinilai sebagai langkah responsif atas gejolak yang dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurut Oktavianus Audi, VICE President Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, keputusan ini mencerminkan akuntabilitas institusi dalam situasi yang tidak stabil di pasar modal domestik.
Oktavianus menambahkan, pengunduran diri Iman Rachman menciptakan sinyal positif kepada investor global bahwa otoritas bursa berusaha bertanggung jawab atas ketidakstabilan tersebut. Meskipun beberapa pihak memandang bahwa pengunduran diri ini merupakan respon terhadap tekanan politik yang kuat, langkah tersebut juga membuka peluang untuk reformasi dan perbaikan tata kelola di BEI melalui kepemimpinan yang baru.
Pada hari sebelumnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, berdampak pada pembekuan sementara perdagangan saham selama dua hari berturut-turut. Hal ini, menurut Iman, membuatnya mengambil keputusan berani tersebut sebagai bentuk tanggung jawab.
MSCI juga menggarisbawahi masalah fundamental terkait transparansi data pasar yang memengaruhi keyakinan investor asing. Banyak saham yang terdaftar sebagai “publik” ternyata dikuasai oleh pemegang saham afiliasi, sehingga investor besar kesulitan bertransaksi. Meski demikian, dengan adanya kepemimpinan baru, diharapkan hubungan antara BEI dan MSCI dapat diperbaiki tanpa beban masa lalu.
Dalam penutupan, Oktavianus mengingatkan bahwa efektivitas langkah ini dalam menghadapi tantangan dari MSCI akan tergantung pada mekanisme transisi yang solid dan terkoordinasi, agar tidak ada lagi penurunan klasifikasi di mata investor global.