Asman.ac.id – Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengalami deflasi sebesar 0,09 persen di bulan Januari 2026, disebabkan oleh penurunan harga sejumlah bahan pokok. Kelompok pengeluaran utama yang terdampak adalah makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami penurunan hingga 0,91 persen, berkontribusi pada deflasi sebesar 0,28 persen. Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami deflasi sebesar 0,26 persen, yang memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi, Ninik Anisah, menjelaskan bahwa beberapa komoditas penyumbang deflasi termasuk cabai merah, cabai rawit, daging ayam, dan bawang merah. Meski demikian, komoditas seperti emas perhiasan dan beberapa jenis sayuran serta beras berkontribusi pada inflasi.
Hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat menunjukkan tren deflasi, dengan Kota Bogor mengalami penurunan terbesar di angka 0,21 persen. Sementara itu, hanya Kota Bekasi yang mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen.
Dalam sektor pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui Bandara Kertajati meningkat mencolok menjadi 395 kunjungan pada Desember 2025, naik 118,23 persen dari bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan, kunjungan wisman menurun signifikan dari 10.309 pada 2024 menjadi hanya 3.293 sepanjang 2025.
Di sisi lain, kedatangan warga negara asing (WNA) menggunakan moda transportasi Whoosh meningkat 38,41 persen, dengan total 23.025 kunjungan pada Desember 2025. Tercatat juga, perjalanan wisatawan nusantara (Wisnus) mencapai 18,53 juta pada Desember 2025, mengalami kenaikan 4,89 persen dari November 2025 dan mencatat rekor tertinggi sejak 2021.
Ninik menggarisbawahi bahwa Kota Bogor, Bandung, dan Bekasi tetap menjadi tujuan utama wisatawan domestik, yang berimbas positif pada tingkat penghunian kamar hotel bintang di Jawa Barat yang mencapai 58,13 persen pada Desember 2025.