Site icon asman.ac.id

HIMKI Dorong Kebijakan Tepat Untuk Mempertahankan Daya Saing Furnitur RI

[original_title]

Asman.ac.id – Sektor furnitur dan kerajinan di Indonesia mengalami tekanan signifikan akibat kenaikan biaya energi dan tantangan geopolitik global. Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menekankan pentingnya kebijakan yang terukur untuk menjaga daya saing sektor ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada hari Rabu.

Abdul Sobur menjelaskan bahwa di tengah kombinasi tantangan yang ada, seperti kenaikan biaya energi, keterbatasan bahan baku, dan hambatan operasional, pengaturan likuiditas ekspor menjadi faktor yang dapat memengaruhi kinerja sektor hilir, terutama industri padat karya. Ia menegaskan bahwa sektor furnitur dan kerajinan sangat sensitif terhadap perubahan biaya dan menilai bahwa ruang untuk penyesuaian harga di pasar global semakin terbatas.

Kelancaran pasokan bahan baku dan pengelolaan arus kas yang fleksibel diakui sebagai kunci untuk mempertahankan produksi. Sobur menambahkan bahwa kebijakan yang tepat dapat meringankan tekanan yang dihadapi sektor ini dan berpotensi memberikan kontribusi terhadap nilai tambah dan devisa negara.

HIMKI menekankan perlunya pendekatan kebijakan yang lebih terukur berdasarkan karakteristik masing-masing sektor industri. Hal ini dianggap krusial agar industri hilir, khususnya furnitur dan kerajinan, dapat tumbuh dan berkontribusi pada perekonomian nasional.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi pusat produksi furnitur global dengan menguatkan hilirisasi kayu berkelanjutan. Kemenperin meyakini sektor ini dapat menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan memiliki nilai pasar global yang mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Dalam lima tahun ke depan, diharapkan Indonesia dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan industri furnitur.

Exit mobile version