Asman.ac.id – Pemerintah Kolombia mengumumkan rencana untuk terus bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dalam memerangi perdagangan narkoba. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, menyiratkan bahwa Kolombia dapat menjadi target operasi militer AS mendatang. Menteri Dalam Negeri Kolombia, Armando Benedetti, menegaskan komitmen ini dalam sebuah tayangan video bersama Menteri Kehakiman, Andres Idarraga, pada Selasa (6/1/2026).
Benedetti menambahkan bahwa upaya anti-narkoba di Kolombia akan difokuskan pada penanggulangan laboratorium narkoba, kelompok kriminal, dan lokasi-lokasi operasi mereka. Dia menjelaskan, “Kami akan terus menekankan perjuangan melawan momok ini, khususnya di perbatasan Kolombia-Venezuela.”
Trump sebelumnya mengkritik pemerintahan Kolombia yang dipimpin oleh Presiden Gustavo Petro, dengan menyebutnya sebagai “orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke AS.” Pernyataan tersebut menunjukkan ketegangan dalam hubungan bilateral antara kedua negara. Saat ditanya mengenai kemungkinan operasi AS di Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”
Situasi ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi Kolombia dalam mengatasi masalah narkoba, yang telah lama menjadi isu serius bagi negara tersebut. Kerja sama dengan AS diharapkan dapat memberikan dukungan logistik dan sumber daya untuk memperkuat upaya penegakan hukum dan mengurangi produksi narkotik.
Sebagai negara yang terletak di jalur perdagangan narkoba global, Kolombia berkomitmen untuk berkontribusi dalam solusi jangka panjang bagi krisis ini. Kesiapan pemerintah Kolombia untuk berkolaborasi dengan AS menunjukkan pentingnya pendekatan diplomatik dalam isu yang kompleks dan krusial ini.