Site icon asman.ac.id

Rupiah Diperkirakan Menguat Terbatas Menjelang FOMC

[original_title]

Asman.ac.id – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan di Jakarta pada Selasa, mencatatkan peningkatan sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan penguatan ini bersifat terbatas seiring dengan sikap investor yang cenderung menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dilaksanakan pada Rabu, 28 Januari 2026.

Lukman menjelaskan, meski ada potensi penguatan, tekanan terhadap dolar AS masih akan memengaruhi pergerakan rupiah. Investor sangat menantikan sikap dari Kepala The Fed, apakah akan bersikap hawkish atau dovish terkait perkembangan terbaru yang terjadi di bidang geopolitik. Jika kebijakan yang diambil cenderung dovish, maka kemungkinan besar dolar AS akan terus melemah, yang akan menguntungkan nilai rupiah.

FOMC sebelumnya telah melakukan pemangkasan suku bunga Fed total sebesar 75 basis poin dalam tiga bulan terakhir tahun lalu. Langkah ini diambil di tengah situasi politik dan hukum yang kompleks yang melibatkan bank sentral. Tekanan dari Presiden AS Donald Trump terhadap The Fed untuk memangkas suku bunga semakin menambah ketidakpastian.

Di sisi lain, pelantikan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia juga menjadi sorotan. Djiwandono, yang merupakan keponakan dari Presiden RI Prabowo Subianto, diharapkan dapat menjaga independensi bank sentral di tengah berbagai tantangan kebijakan moneter dan ekonomi yang ada.

Rapat internal Komisi XI DPR RI telah memilih Djiwandono pada Senin (26/1), dan keputusan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna untuk disetujui. Pengamat menyatakan bahwa situasi ini memerlukan perhatian lebih untuk memastikan stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

Exit mobile version