Asman.ac.id – Krisis energi yang melanda dunia, dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, telah menimbulkan tantangan signifikan bagi negara-negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, keberlangsungan pasokan energi, terutama gas LPG, menjadi perhatian utama pemerintah. Langkah-langkah strategis diperlukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah berlangsungnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang telah memicu penutupan Selat Hormuz.
Konflik ini berdampak luas, mendorong negara-negara yang terpisah ribuan kilometer untuk merasakan imbasnya, seperti Filipina yang sejak 24 Maret lalu menetapkan keadaan darurat nasional akibat gangguan rantai pasokan energi. Australia juga melaporkan kekosongan stok BBM di banyak stasiun pengisian bahan bakar, menciptakan momen viral di media sosial saat masyarakat tampak berjalan kaki mencari alternatif transportasi.
Di India, yang segera merasakan dampak krisis ini, restoran dan kafe harus membatasi operasional karena kelangkaan LPG. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah menyetujui distribusi minyak tanah sebagai alternatif memasak bagi masyarakat. Kebijakan serupa perlu dipertimbangkan oleh Indonesia, yang bergantung 75 persen pada impor LPG.
Penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah yang tepat, seperti mengalihkan penggunaan kompor LPG ke kompor listrik, untuk mengurangi dampak krisis ini pada anggaran negara. Penggantian ini tidak hanya menciptakan efisiensi anggaran, tetapi juga membantu mengurangi dampak dari dinamika geopolitik yang mempengaruhi kestabilan pasokan energi. Keberlangsungan pangan bagi rakyat harus menjadi prioritas utama dalam upaya menghadapi tantangan ini.