Asman.ac.id – Kontroversi menyelubungi usulan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru, yang dianggap akan mengutamakan kepentingan Amerika. Kritik datang dari Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, yang menyatakan bahwa Trump berupaya menciptakan badan internasional di bawah kendalinya sendiri. Lula menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak hanya merugikan upaya memperbaiki PBB, tetapi juga mengarah pada penghancuran piagam PBB yang telah ada.
Dalam pidatonya pada sebuah acara di Washington, Lula menyebutkan bahwa pendekatan Trump dapat menciptakan tatanan dunia yang berbahaya, di mana multilateralisme terancam diabaikan demi unilateralisme. Ia memperingatkan bahwa situasi ini adalah momen kritis bagi komunitas internasional, di tengah kekhawatiran tentang penggunaan kekuatan militer oleh AS untuk memaksakan kebijakan luar negeri.
Lula menyampaikan bahwa apa yang terjadi saat ini bukan sekadar perubahan dalam struktur organisasi global, melainkan bisa merusak landasan hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Trump seolah menggantikan prinsip-prinsip PBB dengan “hukum rimba,” yang dapat memiliki dampak luas terhadap ketegangan global.
Di saat bersamaan, Lula juga membahas isu-isu lain dalam komunikasi dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyangkut tarif yang baru-baru ini dikenakan oleh AS terhadap barang-barang Brasil dan India. Diskusi ini menunjukkan pentingnya kerjasama internasional di tengah tantangan yang dihadapi oleh negara-negara dalam menjaga stabilitas dan integritas hubungan global.