Asman.ac.id – Kenaikan harga minyak mentah dunia dalam 12 bulan terakhir telah mencapai 91%, mendekati ambang batas historis 100%, yang seringkali menjadi pertanda krisis pasar utama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya resesi global dan kejatuhan bursa saham. Pendiri DataTrek Research, Nick Colas, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak hingga 100% dalam satu tahun biasanya menandakan potensi resesi.
Dengan harga minyak Brent melampaui USD111 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD112 per barel, lonjakan harga ini menjadi perhatian. Bahkan, patokan fisik Dated Brent sempat menyentuh USD141 per barel, level tertinggi sejak 2008. Kenaikan harga ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik, khususnya serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026, dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan vital.
Analisis lebih lanjut oleh Jack Prandelli menunjukkan bahwa pola kenaikan harga energi di atas 100% selalu mendahului peristiwa besar seperti gelembung dotcom, krisis keuangan 2008, dan pasar bear tahun 2022. Kenaikan harga energi ini memberikan dampak signifikan terhadap industri serta perekonomian global secara keseluruhan.
Sejak Maret 2026, harga minyak Brent mencatat kenaikan bulanan sebesar 64%, menjadi rekor tertinggi dalam catatan historis data LSEG sejak 1988. Situasi ini memicu perdebatan di kalangan para analis mengenai langkah-langkah yang perlu diambil untuk meredakan kemungkinan krisis yang lebih besar, sementara pasar global menantikan perkembangan lebih lanjut terkait situasi yang ada.