Site icon asman.ac.id

Siswa NTT Bunuh Diri, Psikiater Ungkap Penyebabnya

[original_title]

Asman.ac.id – Kasus bunuh diri seorang siswa berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) menarik perhatian masyarakat. Anak yang dikenal dengan inisial YBS ini diduga mengakhiri hidupnya karena merasa tidak mampu membeli perlengkapan sekolah seperti buku dan pena. Psikiater dr. Lahargo Kembaren menjelaskan bahwa anak di usia tersebut sudah mulai memahami konsep kematian meski secara emosional dan kognitif belum sepenuhnya matang.

Dalam pernyataannya pada Rabu (4/2), dr. Lahargo menekankan bahwa keputusan YBS untuk mengakhiri hidup bukanlah gambaran dari keinginan untuk mati, melainkan akibat dari tekanan yang tidak mampu ditangani. “Anak di usia 9–10 tahun seringkali berpikir dalam konteks konkret, membuat mereka rentan berkesimpulan ekstrem ketika mengalami stres,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr. Lahargo mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa mengancam generasi muda, terutama ketika mereka menghadapi masalah psikologis tanpa dukungan emosional. Menurut data dari WHO, isu ini semakin meluas karena banyak anak yang mengalami distres psikologis tanpa memiliki ruang untuk berbagi beban mereka.

Ditemukan juga sepucuk surat yang ditujukan kepada ibu kandungnya, yang merupakan orangtua tunggal, menambah nuansa tragedi dalam kasus ini. Dr. Lahargo menegaskan bahwa tindakan bunuh diri sering kali merupakan ungkapan keputusasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan baik oleh anak-anak. Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak dan dukungan emosional yang memadai.

Exit mobile version