Asman.ac.id – Rusia mengajukan protes terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) yang menerapkan pembatasan terhadap bisnis minyak di Venezuela. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menilai langkah AS merupakan bentuk diskriminasi yang jelas. Hal ini disampaikan Lavrov dalam sebuah pidato di depan majelis parlemen, di mana ia mengecam lisensi umum yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan AS. Lisensi tersebut bertujuan untuk memfasilitasi eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Venezuela, tetapi melarang keterlibatan warga negara atau entitas dari Rusia, China, dan Iran.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia telah berusaha untuk menjalin komunikasi dengan Washington dengan harapan meraih bentuk kerja sama yang saling menghormati, tanpa adanya dominasi dari pihak manapun. Ia menyatakan bahwa diskriminasi ini tidak hanya merugikan Rusia, tetapi juga negara-negara lain yang memiliki kepentingan di sektor energi Venezuela. Menurutnya, Rusia, China, dan Iran telah melakukan investasi signifikan di sektor minyak dan energi Venezuela, sehingga pembatasan ini diangap sebagai tindakan yang tidak adil.
Sekretaris Pers Presiden Rusia, Dmitry Peskov, juga mendukung pernyataan Lavrov mengenai diskriminasi ini. Ia menekankan perlunya dialog untuk mengatasi masalah yang timbul akibat tindakan sepihak AS. Dalam konteks ini, Rusia berupaya untuk mempertahankan perannya sebagai mitra penting dalam industri energi Venezuela, di mana banyak pihak melihat potensi kolaborasi yang dapat menguntungkan semua pihak.
Ketegangan antara Rusia dan AS ini menunjukkan kompleksitas hubungan internasional, terutama terkait dengan sumber daya alam dan kepentingan ekonomi global yang saling bertentangan.