Asman.ac.id – SD Negeri 11 Linge di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami hilangnya atap seng dan fasilitas lainnya setelah bencana banjir besar pada November 2025. Kerugian ini menambah beban bagi anak-anak yang sudah terdampak bencana, di mana sejumlah bangunan sekolah porak-poranda dan tertimbun lumpur hingga tiga meter.
Hasil penelusuran menemukan bahwa ratusan lembar atap seng berkualitas tinggi tersebut raib sebulan pasca bencana, meskipun dalam kondisi baik sebelum banjir. Seluruh aset sekolah seharusnya dilindungi, namun keberadaan tangan jahil di lokasi bencana membuat situasi semakin pelik. Material sekolah, seperti daun pintu dan jendela, serta fasilitas pendukung seperti kabel listrik dan bangku juga ikut hilang.
Kepala SDN 11 Linge, Zupariah, melaporkan kondisi gedung kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah beberapa minggu setelah banjir. Namun, proses pembongkaran dan pengangkutan bahan bangunan terjadi pada siang hari oleh sekelompok orang yang diduga termasuk pihak berwenang setempat. Mereka mengklaim bertindak atas arahan pemerintah untuk ‘membersihkan’ lokasi.
Muhammad Aditya Ibnu Salim, relawan dari Universitas Gajah Mada, menyesalkan tindakan tersebut. Dia bersama relawan lain berharap agar pemerintah segera memulihkan sarana pendidikan di daerah yang terkena dampak. Tim relawan mengingatkan perlunya menjaga fasilitas pendidikan agar memastikan masa depan anak-anak tidak semakin terancam.
Aditya menyerukan agar penegak hukum menindak tegas praktik ilegal ini agar tidak ada lagi pihak yang mengambil keuntungan di saat masyarakat sedang berjuang untuk bangkit dari bencana. “Kami berharap semua pihak dapat berkontribusi positif, alih-alih merusak harapan generasi penerus,” tutupnya.