Asman.ac.id – Ketua Umum Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) Munawar Chalil mengungkapkan pentingnya kepastian kebijakan insentif kendaraan listrik dalam menjaga pertumbuhan industri otomotif di Indonesia. Dalam diskusi di Jakarta, Munawar menekankan bahwa dunia usaha, khususnya sektor otomotif, memerlukan kejelasan dari pemerintah terkait kelanjutan insentif yang kini masih dalam evaluasi.
Industri otomotif di Indonesia berkontribusi sekitar 1,28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan mencakup ekosistem yang luas, termasuk komponen, manufaktur, dan layanan purnajual. Munawar menyatakan bahwa sektor ini sangat padat karya, melibatkan ratusan ribu pekerja. Kebijakan insentif yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir terbukti berhasil mendorong percepatan elektrifikasi, dengan prediksi penjualan kendaraan listrik nasional meningkat hingga 175 ribu unit pada 2025. Lonjakan terbesar tercatat pada segmen Battery Electric Vehicle (BEV) yang tumbuh 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, tantangan baru muncul pada 2026 dengan rencana pemerintah untuk menghentikan sebagian insentif kendaraan listrik, termasuk pembebasan PPN dan bea masuk untuk kendaraan impor. Menurut Munawar, kebijakan ini berpotensi mengganggu harga jual kendaraan listrik dan momentum pertumbuhan yang telah dibangun. Ia menekankan pentingnya dialog antara pemerintah dan pelaku industri sebelum mengimplementasikan kebijakan baru.
Munawar berharap agar kebijakan insentif yang diusulkan mempertimbangkan kesinambungan industri dan berkontribusi pada target pemerintah mencapai 600.000 kendaraan listrik pada 2030 dan Net Zero Emission pada 2060. Ia menekankan perlunya masukan konstruktif untuk mendukung keberlanjutan sektor otomotif di Indonesia.