Asman.ac.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengkritik kebijakan yang memungkinkan Israel memperluas persenjataan militernya secara bebas, sementara negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dipaksa untuk melucuti senjata. Pernyataan ini disampaikan oleh Araghchi dalam sebuah konferensi di Doha pada hari Sabtu, pasca-perundingan nuklir yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Araghchi menyatakan bahwa doktrin dominasi yang dijalankan oleh Israel berpotensi melemahkan negara-negara tetangga dari berbagai aspek, termasuk militer, teknologi, ekonomi, dan sosial. Ia juga menyoroti bahwa meskipun Israel memiliki kebebasan dalam memperkuat kemampuan militernya, negara-negara lain di kawasan tersebut ditekan untuk mengurangi kemampuan pertahanan mereka.
Kritikan ini muncul tidak lama setelah Israel melakukan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran pada bulan Juni, yang menyebabkan ketegangan meningkat dan memicu konflik selama dua belas hari. Dalam konferensi tersebut, Araghchi tidak merinci hasil dari perundingan yang baru saja berlangsung dengan pihak AS, tapi ia menegaskan pentingnya kesadaran terhadap proyek ekspansionis Israel yang mengancam stabilitas kawasan.
Pernyataan Araghchi menggambarkan pergeseran dinamis dalam hubungan strategis di Timur Tengah yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap negara-negara lain untuk melucuti senjata bukan hanya berpotensi menimbulkan rasa ketidakadilan, tetapi juga mengancam kemajuan ilmiah dan teknologi di wilayah tersebut. Dengan segala konflik dan ketegangan yang ada, Iran menekankan pada perlunya dialog dan kerja sama yang konstruktif untuk mencapai keamanan bagi semua pihak.