Konferensi Keamanan Munich Jadi Sirkus, Simak 4 Penyebabnya

[original_title]

Asman.ac.id – Konferensi Keamanan Munich (MSC) telah berubah menjadi ajang yang lebih mengutamakan pertunjukan ketimbang substansi, demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam pernyataannya, Araghchi menilai bahwa MSC tahun ini kehilangan keseriusannya, terutama terkait dengan pembahasan isu-isu yang menyangkut Iran.

Tahun ini, penyelenggara MSC memutuskan untuk mencabut undangan bagi pejabat senior Iran akibat kerusuhan yang melanda negara tersebut. Sebagai pengganti, mereka mengundang Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang diasingkan. Pahlavi memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerukan dukungan Barat bagi perubahan rezim di Iran, menekankan perlunya intervensi militer daripada diplomasi.

Araghchi menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi Uni Eropa, yang dinilai tidak mampu memahami situasi dalam negeri Iran. Dia menggambarkan Eropa sebagai kekuatan yang terpinggirkan dan kehilangan pengaruh geopolitiknya di kawasan, terutama dalam konteks program nuklir Iran. Ketidakmampuan ini, menurutnya, menjadikan mereka tidak relevan dalam pembahasan internasional yang mendesak.

Dari sisi lain, Amerika Serikat terus berupaya mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan mengenai kesepakatan nuklir setelah penarikan diri AS dari perjanjian 2015. Sanksi yang dijatuhkan selama bertahun-tahun oleh Washington turut menyebabkan kemerosotan ekonomi di Iran, yang memicu serangkaian protes yang berujung pada kekerasan.

Sikap Presiden Trump, yang menganggap perubahan rezim sebagai alternatif terbaik untuk Iran, ditanggapi dengan ketegangan dari berbagai pihak, termasuk Rusia yang menyerukan solusi damai atas situasi yang berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *