Asman.ac.id – Mahasiswa Iran kembali melancarkan aksi demonstrasi dengan menyuarakan slogan-slogan anti-pemerintah di Teheran pada hari Sabtu. Ujaran protes ini merupakan reaksi terhadap para pemimpin ulama di negara tersebut, di tengah intensifikasinya kekuatan militer Amerika Serikat yang ingin memengaruhi kesepakatan nuklir.
Demonstrasi berlangsung di berbagai universitas, dipicu oleh gerakan protes besar-besaran sebelumnya yang berujung pada tindakan keras pemerintah, mengakibatkan ribuan korban jiwa. Tujuan utama dari aksi ini adalah mendorong pemerintah AS untuk menggulingkan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Konflik baru ini hadir setelah Presiden AS Donald Trump mengancam intervensi militer, meskipun fokus utamanya kini beralih ke program nuklir Iran, yang dinilai dapat menghasilkan senjata nuklir. AS dan Iran baru-baru ini melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Oman mengenai kesepakatan nuklir, tetapi pada saat yang sama, Washington meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut, termasuk pengiriman dua kapal induk dan jet tempur.
Video yang dirilis media menunjukkan kerusuhan terjadi di Universitas Teknologi Sharif, di mana mahasiswa meneriakkan kata-kata memalukan, dan perkelahian pecah di tengah kerumunan. Selain itu, pada awal pekan ini, warga Iran memperingati hari ke-40 sejak ribuan orang tewas akibat demonstrasi yang mencapai puncaknya pada tanggal 8 dan 9 Januari lalu.
Aksi protes ini berakar dari tekanan ekonomi yang berkepanjangan dan menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah. Demonstrasi ini berlangsung di beberapa universitas di ibu kota, mencerminkan gelombang oposisi yang masih membara di tengah situasi politik yang menegangkan.