Asman.ac.id – Kekhawatiran akan keamanan di Meksiko semakin mengemuka menjelang Piala Dunia FIFA 2026, setelah gelombang kekerasan dipicu oleh tewasnya pemimpin kartel narkoba di Guadalajara. Peristiwa ini menimbulkan keraguan di kalangan masyarakat tentang kesiapan Meksiko menjadi tuan rumah turnamen bergengsi tersebut.
Serangkaian bentrokan bersenjata terjadi setelah operasi militer yang menewaskan Nemesio Oseguera Cervantes, alias “El Mencho”, yang memimpin Jalisco New Generation Cartel. Situasi mencekam dilaporkan meluas di negara bagian Jalisco, dengan puluhan orang tewas dan kartel melakukan aksi balas dendam berupa pembakaran kendaraan serta penutupan jalan.
Warga lokal, seperti pemilik restoran Hugo Alejandro Pérez, mulai meragukan keputusan pemerintah menjadikan Guadalajara sebagai salah satu lokasi pertandingan. Pérez menyatakan keraguan akan kemampuan pemerintah dalam menangani masalah keamanan yang sudah mengakar, dan menilai penyelenggaraan Piala Dunia di tengah kekerasan bukanlah pilihan yang tepat.
Di sisi lain, Pemerintah Meksiko, melalui Presiden Claudia Sheinbaum, berusaha menenangkan kekhawatiran publik. Ia menjamin keamanan turnamen dan memastikan bahwa tidak ada risiko bagi para penggemar yang akan datang. Otoritas setempat juga menegaskan tidak ada rencana untuk memindahkan lokasi pertandingan.
Meskipun terdapat upaya meredakan situasi, kekhawatiran tetap ada. Beberapa pihak menganggap kematian El Mencho bisa memicu konflik internal di kartel, sementara beberapa turis asing yang mengalami kekerasan melaporkan trauma dan ragu untuk kembali ke Meksiko. Sementara itu, kegiatan di lapangan mulai pulih, tetapi masih ada rasa cemas di kalangan pelaku usaha kecil terkait potensi dampak negatif terhadap citra pariwisata menjelang ajang sepak bola terbesar di dunia.