Asman.ac.id – Peperangan antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki pekan kedua tanpa indikasi mereda. Konflik ini memicu pertanyaan mengenai durasi dan dampaknya terhadap posisi domestik Presiden Donald Trump. Berbeda dengan intervensi sebelumnya yang lebih cepat, perang kali ini terlihat lebih rumit, dengan pernyataan dari pemerintah yang memberikan waktu mulai dari hitungan hari hingga waktu yang tidak pasti.
Trump menyatakan bahwa perang ini tidak akan berhenti hingga Iran menyerah tanpa syarat. Ambisi untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir diprediksi akan berlangsung lama dan berpotensi melibatkan pasukan darat. Dalam konteks ini, tingkat dukungan publik terhadap perang ini cenderung rendah, dengan survei menunjukkan banyak warga Amerika, termasuk 34% pemilih Republik, menolak perang jika harga bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat.
Lonjakan harga BBM menjadi salah satu faktor utama ketidakpuasan publik. Meskipun Trump berargumen bahwa biaya ini merupakan “harga kecil” untuk keamanan, banyak yang tidak sependapat dan memprediksi inflasi ini akan menjadi masalah bagi Partai Republik menjelang Pemilihan Paruh Waktu 2026.
Penjelasan pemerintah mengenai alasan perang juga terlihat inkonsisten, mulai dari materi nuklir hingga ancaman rudal balistik dan rencana Iran untuk mengambil alih Timur Tengah, menciptakan keraguan di kalangan publik. Selain itu, hubungan dengan Israel pun mengalami penurunan dukungan. Investigasi Pentagon terkait serangan di Iran yang menewaskan anak-anak semakin menambah tekanan pada pemerintah.
Saat ini, tantangan bukan hanya pada kemenangan di medan perang, tetapi juga pada seberapa kuat dukungan publik terhadap Trump jika korban terus berjatuhan dan keadaan ekonomi semakin memburuk.