Asman.ac.id – Di tengah tantangan geopolitik global, perubahan iklim, dan bencana alam, ketahanan pangan Indonesia diperkuat oleh peran Perum Bulog. Memasuki usia ke-59, Bulog tidak hanya berfungsi sebagai lembaga logistik pangan, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Lembaga ini memastikan distribusi pangan yang merata, dari gudang penyimpanan hingga pelosok daerah, sehingga masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Di negara kepulauan seperti Indonesia, gudang-gudang Bulog berperan sebagai pilar penting yang menjaga rantai distribusi pangan, menghubungkan petani dengan konsumen dari pedesaan ke perkotaan.
Beras, sebagai komoditas utama, dijaga oleh Bulog untuk menjaga daya beli masyarakat, stabilitas ekonomi, dan pengendalian inflasi pangan. Dalam menjalankan perannya, Bulog berfungsi sebagai jembatan antara petani dan konsumen, memastikan bahwa hasil pertanian dapat sampai ke meja makan masyarakat.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa stok cadangan beras pemerintah tercatat sebesar 5,32 juta ton per 13 Mei 2026. Stok ini, yang merupakan yang tertinggi sejak berdirinya Bulog pada 10 Mei 1967, direncanakan dapat memenuhi kebutuhan hingga 2027 tanpa impor. Melalui operasi pasar dan program stabilitas, Bulog berupaya menjaga harga agar tetap terjangkau.
Sebagai bagian dari tanggung jawabnya, Bulog juga menyerap 4 juta ton gabah petani sepanjang tahun 2026 dengan harga pembelian pemerintah, selain menyerap 1 juta ton jagung untuk mendukung sektor pakan ternak. Dengan demikian, Bulog berperan aktif dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan memastikan keseimbangan sektor pangan domestik.