Asman.ac.id – Iran kembali menargetkan Uni Emirat Arab (UEA) dalam retorika militernya, memperingatkan kemungkinan serangan yang lebih kuat terhadap negara tersebut jika agresi dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ali Khezrian, anggota komisi keamanan nasional parlemen Iran, yang menegaskan bahwa UEA kini tidak lagi dianggap sebagai tetangga, melainkan sebagai pangkalan musuh.
Ancaman ini muncul setelah insiden baku tembak antara Iran dan AS di Selat Hormuz, meskipun sebelumnya telah ada gencatan senjata pada bulan April. Komando Angkatan Bersenjata Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mendesak UEA agar tidak menjadikan wilayahnya sebagai “sarang Amerika dan Zionis”.
Iran menyoroti hubungan militer dan intelijen yang semakin kuat antara UEA dan negara-negara barat sebagai faktor yang memperburuk keamanan regional. Jika serangan terhadap pulau-pulau dan pelabuhan selatan Iran berlanjut, IRGC memperingatkan akan adanya “tanggapan yang menghancurkan”.
Lebih dari itu, pelabuhan Fujairah, yang strategis bagi UEA, berada di bawah kendali maritim Iran, sehingga setiap aktivitas pelayaran di sana dikendalikan oleh Iran. Sementara itu, UEA telah mengutuk serangan Iran dan menyatakan haknya untuk merespons dengan cara militer jika diperlukan.
Ketegangan ini berimbas pada hubungan bilateral, di mana UEA mencabut visa bagi warga Iran dan menutup beberapa jalur bisnis serta perdagangan. Hal ini juga berpengaruh negatif terhadap Iran, yang mengandalkan UEA sebagai jalur utama untuk impor barang dari negara ketiga, termasuk China, melalui pelabuhan-pelabuhannya. Menghadapi situasi ini, Iran mencoba mencari alternatif jalur perdagangan darat melalui negara-negara tetangga, menyusul dampak blokade angkatan laut AS.