Asman.ac.id – Lonjakan harga minyak dunia berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hingga hampir Rp280 triliun akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung. Menurut M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), intensitas konflik, terutama antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dapat meningkatkan tekanan pada APBN Indonesia.
Dalam diskusi publik yang digelar secara daring, Rizal menjelaskan bahwa jika situasi ini berlanjut, beban subsidi energi akan meningkat dalam berbagai skenario. Dalam prediksi paling optimis, subsidi energi bisa membengkak hingga Rp215,3 triliun. Setiap kenaikan harga minyak sebesar satu dolar AS per barel diperkirakan akan menambah beban subsidi sebesar Rp2,54 triliun.
Berkaca pada fenomena sebelumnya, setiap lonjakan 10 dolar AS per barel dapat mengurangi ruang fiskal Indonesia lebih dari Rp25 triliun. Oleh karena itu, Rizal mendesak pemerintah untuk segera mengimplementasikan kebijakan antisipatif. Dua langkah yang disarankan adalah menurunkan pajak penjualan untuk bahan bakar minyak dan memastikan bahwa beban kenaikan harga energi tidak sepenuhnya ditanggung oleh masyarakat.
Rizal menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat karena konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung perekonomian, menyumbang sekitar 53% terhadap produk domestik bruto (PDB). Jika tidak ada langkah antisipatif, perekonomian Indonesia berpotensi mengalami penurunan sebesar 0,12% dalam pertumbuhan PDB. Sebaliknya, penerapan kebijakan tersebut dapat mengurangi dampak negatif secara signifikan, bahkan hingga 0,02% dalam periode pendek, sehingga mendukung stabilitas ekonomi nasional.