Asman.ac.id – Kawasan sentra garam di Rote Ndao muncul sebagai harapan baru dalam pergaraman nasional. Hingga kini, Indonesia masih bergantung pada garam impor, dengan produksi domestik rata-rata hanya mencapai 1 juta hingga 2 juta ton per tahun. Angka ini sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, sedangkan kebutuhan garam nasional berkisar antara 4,5 juta hingga 5 juta ton per tahun. Ketimpangan ini menyebabkan Indonesia harus mengimpor sekitar 2,5 juta hingga 3 juta ton garam, terutama untuk industri yang memerlukan kualitas tinggi.
Garam memiliki peranan penting dalam berbagai sektor, meliputi pangan, kosmetik, tekstil, farmasi, kimia, dan pengeboran minyak. Namun, kualitas garam lokal masih menjadi persoalan utama. Banyak garam yang dihasilkan oleh petambak rakyat hanya memiliki kadar natrium klorida (NaCl) maksimal 94 persen, sedangkan standar industri mengharuskan kualitas minimal 97 persen.
Cuaca juga berperan signifikan dalam produksi garam. Misalnya, pada 2025, kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan produksi anjlok hingga 50 persen, di mana hanya menghasilkan sekitar 1 juta ton pada awal Desember. Dengan ketergantungan pada faktor cuaca, produksi garam Indonesia menjadi tidak stabil dari tahun ke tahun.
Meskipun mengalami tantangan, garam tetap menjadi sektor ekonomi penting di berbagai daerah. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat 10 provinsi sebagai produsen utama. Jawa Timur merupakan penghasil terbesar dengan 863.332 ton, diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Barat. Untuk mengatasi kekurangan pasokan, pemerintah mendorong pengembangan sentra-sentra produksi baru dan memperkuat tambak yang ada. Sebagai langkah strategis, Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 telah dikeluarkan untuk mempercepat pembangunan pergaraman nasional menuju swasembada pada tahun 2027.