Asman.ac.id – Venezuela saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, lebih dari sekadar drama politik di Amerika Selatan. Di balik isu narkoba, pemilihan umum yang kontroversial, dan krisis kemanusiaan, negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, terutama jenis heavy oil yang sangat strategis. Situasi di Venezuela menunjukkan adanya konflik ekonomi, di mana sanksi dan ketegangan digunakan untuk merestrukturisasi kepentingan energi dan ekonomi.
Amerika Serikat tampaknya tidak menekan Venezuela hanya karena alasan demokrasi atau perang melawan narkoba, tetapi karena kepentingan ekonomi yang lebih besar. Ketika ekonomi Venezuela merosot, elite dan masyarakat pun terpaksa lebih kooperatif, sehingga kontrol energi dan pasar strategis tetap berada di tangan negara-negara barat tanpa harus mengeluarkan biaya militer yang besar.
Sebagai perbandingan, Meksiko, yang merupakan pusat kartel narkoba terbesar, tidak mendapatkan tekanan yang sama dari AS, yang menunjukkan bahwa isu-isu ini sering kali menjadi penutup bagi kepentingan ekonomi. Fenomena serupa juga terlihat di kawasan Timur Tengah dan Ukraina. Konflik yang terjadi bukanlah kegagalan sistem, melainkan bagian dari mekanisme ekonomi global yang menguntungkan negara maju.
Indonesia pun tidak terlepas dari dinamika ini. Meskipun tidak terjebak dalam perang terbuka, Indonesia menjadi bagian dari ekosistem ekonomi global yang melibatkan kepentingan negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, dan China. Sejak 1970-an, Indonesia telah menjadikan dirinya sebagai pasar bagi produk asing serta pemasok bahan mentah, namun belum membuat kemandirian teknologi dan industri sebagai prioritas.
Dengan potensi pasar domestik yang besar, sumber daya yang melimpah, dan populasi produktif, Indonesia seharusnya dapat mencapai kemandirian dan keberlanjutan ekonomi. Tanpa strategi yang tepat, negara ini bisa terus berada dalam posisi yang diinginkan oleh negara-negara maju: cukup tumbuh untuk menjadi pasar yang kuat, tetapi tidak cukup maju untuk meraih kedaulatan penuh.