Asman.ac.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali telah merumuskan lima strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata di tahun 2026. Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja, menyatakan hal ini dalam sebuah konferensi di Denpasar pada hari Jumat.
Strategi pertama berfokus pada pengembangan sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan investasi. Kedua, BI berencana untuk melakukan diversifikasi destinasi wisata dengan mempertimbangkan karakteristik daerah dan budaya lokal. Ketiga adalah pengendalian inflasi dan peningkatan daya beli masyarakat melalui rantai pasok yang efisien serta perluasan distribusi barang.
Keempat, BI akan fokus pada pembiayaan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor prioritas lainnya. Strategi terakhir adalah meningkatkan digitalisasi sistem pembayaran, terutama melalui penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Erwin menekankan bahwa perjalanan wisata yang meningkat selama triwulan pertama 2026, berbarengan dengan sejumlah hari besar keagamaan seperti Imlek dan Ramadhan, diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali.
Dari aspek pariwisata, peningkatan penerbangan internasional dan kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), serta penambahan akomodasi baru, akan mendorong jumlah kunjungan wisatawan. Dalam hal pertanian, upaya menurunkan harga eceran pupuk subsidi dan penggunaan bibit unggul telah berpotensi menghasilkan hasil pertanian yang lebih baik.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2025 mencapai 5,86 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,39 persen. Kontribusi utama datang dari sektor akomodasi dan makanan, perdagangan, serta transportasi. Sektor konstruksi, pertanian, dan peternakan juga menunjukkan pertumbuhan positif, menyokong harapan akan ekonomi Bali yang lebih kuat di masa mendatang.