Asman.ac.id – Investigasi awal yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat mengungkapkan tragedi mengerikan di Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh, Minab, Iran, yang terjadi pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menjadikan rudal Tomahawk, yang dikenal sebagai senjata presisi tinggi, sebagai alat penyerangan yang membawa dampak fatal. Dalam insiden ini, sekitar 175 warga sipil, termasuk 168 anak-anak, kehilangan nyawa akibat kesalahan penargetan.
Operasi yang dikenal dengan nama Epic Fury ini melibatkan penggunaan varian terbaru dari rudal Tomahawk Block V, yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan canggih. Meskipun dilengkapi dengan teknologi canggih seperti Digital Scene Matching Area Correlation untuk identifikasi target, rudal tersebut gagal membedakan sekolah dengan pangkalan militer.
Investigasi menunjukkan bahwa informasi intelijen yang digunakan untuk menentukan koordinat target sudah usang, berasal dari periode 2013 hingga 2016. Saat itu, lokasi sekolah memang merupakan bagian dari pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, tetapi sejak 2016, tempat ini telah beralih fungsi menjadi institusi pendidikan.
Serangan terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung, sekitar pukul 10.00 waktu setempat, dan hampir bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan IRGC yang terletak tidak jauh dari lokasi. Tragedi ini memicu reaksi internasional, dengan organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch mengecam pelanggaran serius hukum humaniter internasional.
Pemerintah Iran menuntut penyelidikan independen dan kompensasi atas insiden ini, sementara di Washington, tekanan meningkat terhadap pemerintahan Donald Trump untuk mempertanggungjawabkan kegagalan intelijen yang menyebabkan tragedi tersebut. Kejadian ini lagi-lagi mengangkat pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan teknologi dalam operasi militer.